JAKARTA — Di berbagai belahan negara maju, tingkat keselamatan dan keteraturan lalu lintas telah lama dijadikan sebagai parameter utama dalam mengukur kualitas peradaban modern suatu bangsa. Grafiknya yang minim angka kecelakaan fatal tidak hanya menunjukkan keandalan aspek infrastruktur jalan, melainkan menjadi bukti empiris kuatnya kesadaran sosial masyarakatnya.

Indonesia saat ini sedang mengarahkan kiblat tata kelola jalannya menuju standar dunia tersebut, sebuah proses transformasi yang diakui tidak mudah namun mutlak dilakukan.

Kakorlantas Polri, Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa bangsa yang maju selalu ditandai oleh warganya yang menempatkan aspek keselamatan sebagai kebutuhan dasar, bukan beban paksaan regulasi.

“Di banyak negara maju, keselamatan lalu lintas menjadi ukuran penting kualitas peradaban modern,” kata Irjen Agus memberikan komparasi strategis.

Disiplin Jalan Raya Investasi Daya Saing Bangsa

Mengubah perilaku berlalu lintas agar setara dengan budaya negara maju menuntut perbaikan tata kelola yang bersifat menyeluruh. Atas dasar itulah, Korlantas Polri gencar mengadopsi konsep pengawasan yang presisi berpadu dengan sosialisasi yang menyentuh akar rumput secara berkelanjutan.

Negara-negara maju membuktikan bahwa kepatuhan massal yang tegak di lampu merah—meskipun kondisi jalanan sepi dan luput dari pengawasan—adalah pondasi kokoh bagi pembentukan kedisplinan nasional di ruang-ruang ekonomi dan hukum lainnya.

Investasi masa depan ini yang tengah diperjuangkan Korlantas bersama seluruh pemangku kepentingan. Ketika masyarakat Indonesia mulai mengadopsi budaya malu melanggar rambu, maka daya saing dan martabat bangsa otomatis akan terangkat di mata internasional, membawa Indonesia menuju peradaban yang manusiawi dan maju.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here