Jakarta – Dianton, penggagas Asosiasi Ojol Nusantara (AON) Jambi, menegaskan bahwa hubungan kedekatan antara komunitas ojek online (ojol) dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) merupakan bentuk nyata sinergi kemanusiaan dalam menjaga keselamatan dan ketertiban di jalan raya.
“Bagi jutaan pengemudi ojol di Indonesia, kedekatan dengan Polri bukanlah hubungan aparat dan informan, melainkan kemitraan yang lahir dari kebutuhan nyata di jalan raya,” ujar Dianton dalam keterangan tertulis pada Senin (8/6/2026).
Dianton menyampaikan penegasan ini untuk meluruskan opini negatif yang berkembang di masyarakat terkait kedekatan para pejuang aspal dengan institusi Polri. Ia menekankan pentingnya melihat fakta dan dinamika lapangan secara menyeluruh dan objektif.
Di Provinsi Jambi, saat ini terdapat hampir 22 ribu personel gabungan dari ojol dan ojek pangkalan (opang). Para pekerja jalanan ini menghadapi risiko kemacetan, kecelakaan, serta tindak kriminal yang menuntut koordinasi cepat dengan kepolisian.
Program “Polantas Menyapa dan Melayani” yang digagas oleh Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho mendapat apresiasi dari Dianton sebagai ruang dialog yang efektif. Melalui program ini, para driver dapat menyampaikan keluhan dan aspirasi secara langsung kepada kepolisian dengan prinsip saling menghormati.
Dianton juga membantah anggapan bahwa kepedulian ojol di jalan raya berkaitan dengan aktivitas mata-mata negara. Menurutnya, tindakan spontan driver membantu korban kecelakaan atau melaporkan tindak kejahatan adalah bentuk kepedulian sosial yang umum di masyarakat.
“Menjadi warga yang peduli tidak berarti menjadi mata-mata. Ketika driver membantu korban kecelakaan, melaporkan kemacetan, atau memberi informasi tindak kejahatan yang disaksikan langsung, itu adalah kepedulian sosial,” tegas Dianton.
Dia memastikan kedekatan dengan Polri tidak menghilangkan independensi ojol sebagai pekerja mandiri yang berhak berserikat dan berorganisasi. Justru hubungan ini menguatkan kolaborasi demi keselamatan bersama.
“Ojol tetap pekerja mandiri yang mencari nafkah untuk keluarga. Yang dibutuhkan bangsa ini bukan saling curiga, tapi kolaborasi, kepedulian, dan semangat gotong royong,” pungkas Dianton.



